Rabu, 30 November 2011
Biografi Sang Maestro Chrisye
Raden Chrismansyah Rahadi (dikenal dengan nama Chrisye; lahir di Yogyakarta dengan nama Christian Rahadi, 16 September 1949 – meninggal di Jakarta, 30 Maret 2007 pada umur 57 tahun) adalah seorang penyanyi pop legendaris Indonesia. Ia memulai karier musiknya ketika bergabung sebagai bassist dengan band Gipsy, namanya lalu menjulang lewat lagu “Lilin-lilin Kecil” di sekitar tahun 1977 dan “Badai Pasti Berlalu“, setelah bersolo-karier sebagai penyanyi. Beberapa lagunya yang populer adalah “Ketika Tangan dan Kaki Berkata“, “Badai Pasti Berlalu“, “Aku Cinta Dia“, “Hip Hip Hura“, “Nona Lisa“, dan “Pergilah Kasih“. Ia adalah keturunan campuran Tionghoa dan Jawa, ibunya adalah orang Jawa.
Pada 1977-1984 Crisye melakukan dwitunggal dengan Yockie Soerjoprajogo yang bermula ketika Chrisye diajak Yockie Surjoprajogo untuk membawakan lagu Lilin-lilin Kecil James F. Sundah, salah satu lagu yang menjadi finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977. Kerja sama ini berlanjut saat Eros Djarot membuat album soundtrack film Badai Pasti Berlalu (1977).
Pada 1985 Chrisye memisahkan diri dengan Yockie dan mulai menggamit pemusik yang lebih muda untuk menggarap album Sendiri (1985) dan Aku Cinta Dia (1986), yaitu Addie MS dan Raidy Noor. Penata musik album selanjutnya seperti Hip Hip Hura (1986) dan Nona Lisa (1987) dipercayakan kepada trio RAG (Raidy Noor, Adjie Soetama, dan Herman Gelly Effendy) serta Younky Soewarno pada album Jumpa Pertama (1988) dan Pergilah Kasih (1989). Di era ini, musik Chrisye digarap lebih fresh dengan aksentuasi pada programming music (musik mesin) yang tengah ngetrend saat itu. Karakter musiknya pun cenderung riang.
Lalu muncul Erwin Gutawa berlaborasi dengan Chrisye dalam mengolah musik pada 1996-2002. Erwin sendiri banyak membingkai lagu-lagu Chrisye dalam sofistikasi yang lebih memperhatikan akurasi. Erwin banyak memberi peluang untuk memasukkan banyak gestur musik yang sangat berbeda dengan karakter musik Chrisye. Termasuk ketika Erwin menyandingkan Chrisye dengan Waldjinah.
Menyadari akan kekurangannya dalam menulis lirik lagu, Chrisye menjalin kerja sama dengan penulis lirik seperti Deddy Dhukun, Eros Djarot, Rina R.D., Tito Soemarsono, dan Bagoes AA. Bahkan ia pernah meminta kesediaan penyair religius Taufik Ismail untuk menulis lirik lagu Ketika Kaki dan Tangan Berkata yang diinspirasikan dari surat Yasin. Kolaborasi dalam menulis lirik walhasil membuat lagu-lagu yang dinyanyikan Chrisye menjadi variatif dalam tema. Ada tema romansa, tema religius.
Tahun 1995, Chrisye memperoleh BASF Legend Award atas pengabdiannya terhadap musik Indonesia selama ini. Pada tahun 2002, ia meluncurkan album Dekade yang berisi rekam ulang sejumlah lagu lama.
Pada tanggal 31 Juli 2005, Chrisye harus menjalani rawat-inap di rumah sakit di Singapura karena divonis mengidap penyakit kanker paru-paru stadium akhir. Penyakit kanker paru-paru adalah yang tergolong dalam penyakit kanker yang mematikan. Pada awalnya dalam pemeriksaan di Jakarta, Chrisye disebutkan hanya terkena infeksi paru-paru. Namun ternyata setelah menjalani pemeriksaan yang lebih lanjut di Singapura, tim medis di sana memberikan hasil yang lebih akurat bahwa ternyata penyakit yang diderita oleh Chrisye adalah penyakit kanker paru-paru pada stadium IV (stadium akhir).
Pada tanggal 30 Maret 2007, pukul 04.08 WIB, Chrisye meninggal dunia di Jakarta, akibat penyakit kanker paru-paru yang dideritanya. Ia kemudian dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta.
Pada tanggal 7 Maret 2009, Java Jazz menggelar konser bertajuk “A Tribute to Chrisye“, di mana pada saat itu Glenn Fredly membawakan lagu yang mengenang sang legendaris dunia musik tanah air kita ini.
Awal Karier
Awal karier Chrisye dimulai pada tahun 1967 saat bergabung dengan keluarga Nasution di Komunitas Gank Pegangsaan. Bermain sebagai bassis dan vokalis pada band “Sabda Nada” yang dimodali oleh Pontjo Sutowo. Sempat dikontrak untuk bermain di New York selama 2 tahun, sebelum terlibat dalam proyek rekaman Guruh Gipsy. Kemudian diminta oleh Prambors untuk menyanyikan lagu “Lilin Lilin Kecil” karya James F. Sundah dalam Lomba Cipta Lagu Remaja, yang meskipun tidak menjadi pemenang namun menjadi lagu yang hits pada masa itu. Hal lain membuat nama Chrisye makin bersinar pada akhir tahun 70-an adalah setelah membuat soundtrack film Badai Pasti Berlalu bersama Jockie Surjoprajogo dan Eros Djarot.Semangat Kolaborasi
Terdapat fenomena yang mencuat pada sosok Chrisye sejak ia tampil sebagai penyanyi solo pada tahun 1977, yaitu bahwa ia selalu tampil dengan semangat kolaborasi bersama-sama dengan musisi lain.Pada 1977-1984 Crisye melakukan dwitunggal dengan Yockie Soerjoprajogo yang bermula ketika Chrisye diajak Yockie Surjoprajogo untuk membawakan lagu Lilin-lilin Kecil James F. Sundah, salah satu lagu yang menjadi finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977. Kerja sama ini berlanjut saat Eros Djarot membuat album soundtrack film Badai Pasti Berlalu (1977).
Pada 1985 Chrisye memisahkan diri dengan Yockie dan mulai menggamit pemusik yang lebih muda untuk menggarap album Sendiri (1985) dan Aku Cinta Dia (1986), yaitu Addie MS dan Raidy Noor. Penata musik album selanjutnya seperti Hip Hip Hura (1986) dan Nona Lisa (1987) dipercayakan kepada trio RAG (Raidy Noor, Adjie Soetama, dan Herman Gelly Effendy) serta Younky Soewarno pada album Jumpa Pertama (1988) dan Pergilah Kasih (1989). Di era ini, musik Chrisye digarap lebih fresh dengan aksentuasi pada programming music (musik mesin) yang tengah ngetrend saat itu. Karakter musiknya pun cenderung riang.
Lalu muncul Erwin Gutawa berlaborasi dengan Chrisye dalam mengolah musik pada 1996-2002. Erwin sendiri banyak membingkai lagu-lagu Chrisye dalam sofistikasi yang lebih memperhatikan akurasi. Erwin banyak memberi peluang untuk memasukkan banyak gestur musik yang sangat berbeda dengan karakter musik Chrisye. Termasuk ketika Erwin menyandingkan Chrisye dengan Waldjinah.
Menyadari akan kekurangannya dalam menulis lirik lagu, Chrisye menjalin kerja sama dengan penulis lirik seperti Deddy Dhukun, Eros Djarot, Rina R.D., Tito Soemarsono, dan Bagoes AA. Bahkan ia pernah meminta kesediaan penyair religius Taufik Ismail untuk menulis lirik lagu Ketika Kaki dan Tangan Berkata yang diinspirasikan dari surat Yasin. Kolaborasi dalam menulis lirik walhasil membuat lagu-lagu yang dinyanyikan Chrisye menjadi variatif dalam tema. Ada tema romansa, tema religius.
Kehidupan Pribadi
Tahun 1982 Chrisye menikah dengan Damayanti Noor, anggota keluarga Noor Bersaudara. Ia kemudian memeluk agama Islam lalu mengganti nama pertamanya menjadi “Chrismansyah“. Dari pernikahannya dengan Damayanti Noor, Chrisye memperoleh empat orang anak yakni Rizkia Nurannisa (1983), Risti Nurraisa (1986), dan putra kembar : Rainda Prashatya & Randa Pramasya (1989).Tahun 1995, Chrisye memperoleh BASF Legend Award atas pengabdiannya terhadap musik Indonesia selama ini. Pada tahun 2002, ia meluncurkan album Dekade yang berisi rekam ulang sejumlah lagu lama.
Pada tanggal 31 Juli 2005, Chrisye harus menjalani rawat-inap di rumah sakit di Singapura karena divonis mengidap penyakit kanker paru-paru stadium akhir. Penyakit kanker paru-paru adalah yang tergolong dalam penyakit kanker yang mematikan. Pada awalnya dalam pemeriksaan di Jakarta, Chrisye disebutkan hanya terkena infeksi paru-paru. Namun ternyata setelah menjalani pemeriksaan yang lebih lanjut di Singapura, tim medis di sana memberikan hasil yang lebih akurat bahwa ternyata penyakit yang diderita oleh Chrisye adalah penyakit kanker paru-paru pada stadium IV (stadium akhir).
Pada tanggal 30 Maret 2007, pukul 04.08 WIB, Chrisye meninggal dunia di Jakarta, akibat penyakit kanker paru-paru yang dideritanya. Ia kemudian dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta.
Pada tanggal 7 Maret 2009, Java Jazz menggelar konser bertajuk “A Tribute to Chrisye“, di mana pada saat itu Glenn Fredly membawakan lagu yang mengenang sang legendaris dunia musik tanah air kita ini.
Senin, 28 November 2011
Hari Guru Indonesia
Hari guru merupakan penghargaan terhadap guru dan diperingati pada tanggal yang berbeda - beda di setiap Negara. Di Amerika Serikat hari guru diperingati pada setiap minggu pertama bulan Mei sebagai Hari Apresiasi Guru. Di Brazil diperingati setiap tanggal 15 Oktober. Dalam wilayah Asia, Filipina memperingatinya setiap tanggal 5 Oktober dan Malaysia memperingatinya setiap tanggal 16 Mei. Sedangkan Indonesia Hari Guru dirayakan setiap tanggal 25 Nopember bertepatan dengan HUT PGRI. Walau bukan hari libur resmi nasional, kegiatan belajar mengajar sedikit longgar. Setiap sekolah menyelenggarakan apel dan kegiatan lainnya. Hal ini sebagai penghargaan terhadap insan pendidik termasuk guru, kepala sekolah dan pengawas.Tak ketinggalan peringatan Hari Guru turut direfleksikan oleh para guru yang berbakti di Ende. Sebuah kabupaten di tengah pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Hari ini bukan sekedar upacara bendera di sekolah. Hari guru bukan saja sebuah seremonial belaka. Namun sebagai hari tuk sejenak berdiam diri dan merefleksikan makna sebuah profesi, yang notabene seorang pendidik.
Sekedar menengok ke belakang. Hasil UN 2010 menempatkan Propinsi Nusa Tenggara Timur di urutan pertama dari terakhir dari 33 Propinsi di Indonesia. Data Dinas PPO NTT, dari total peserta UN SMA sebanyak 35.185 siswa, yang lulus hanya 48,02 persen. Sedangkan dari 11.616 siswa SMK, yang lulus hanya 65,71 persen. Untuk tingkat SMP se - NTT, dari 72.450 siswa yang lulus 60,13 persen. Ironisnya, Kabupaten Ende yang dikenal sebagai Kota Pendidikan, persentase kelulusan untuk UN SMP dan SMA menempati urutan terakhir dari 21 kabupaten/kota di NTT. Sebuah prestasi yang menyedihkan. Terhadap kondisi ini, pertanyaan reflektif perlu dilontarkan, apa yang salah dengan pendidikan di NTT? Atau Ende, khususnya?
Membedah Masalah
Geliat pertumbuhan sekolah di kabupaten Ende bak jamur di musim hujan. Banyak sekolah hadir untuk meramaikan pasar peserta didik. Sangat disayangkan pertumbuhan sekolah yang semestiinta berbuah baik ini tidak disikapi secara serius oleh para pengelola pendidikan. Ada sekolah yang hanya nama tapi masih menggunakan gedung milik sekolah lain. Ada yang sekolah model satu atap. Benar sebagai efisiensi biaya gedung tetapi menjadi minim sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar. Ada sekolah yang tidak memiliki laboratorium. Tidak memiliki lapangan olahraga. Masalah persediaan sarana ini menjadikan sekolah tersebut miskin prestasi. Di sisi lain, ada masalah guru. Banyaknya sekolah tidak diimbangi dengan tenaga pendidik maka proses belajar mengajar akan berjalan pincang. Tidak heran banyak guru mengajarnya merangkap dan seperti “dosen terbang”. Peningkatan profesionalisme dan kinerja guru melalui proses sertifikasi terkesan tak berbuah banyak. Kompetensi guru tidak diukur oleh banyaknya sertifikat pelatihan yang dikumpulkan saat sertifikasi. Tapi yang perlu didorong untuk para guru di kabupaten Ende adalah semangat membaca dan membaca. Guru kurang baca bagaimana mungkin bisa mengetahui dan membuka wawasan yang lebih luas. Sedihnya lagi, banyak sekolah tidak mempunyai perpustakaan atau ruang baca. Kalau pun ada perpustakaan terkesan hanya untuk siswa. Sedangkan guru tidak. Terhadap kondisi ini bagimana kita bisa mengharapkan banyak dari seorang guru yang berwawasan luas. Imbasnya, guru menjadi miskin metode mengajar atau menggunakan metode mengajat yang itu - itu saja. Juga guru tidak tahu menulis. Fakta yang memilukan, ada guru bahasa Indonesia tidak tahu menulis, membuat puisi saja susah. Jadi yang diajarkan selama ini hanya hasil copy - paste.
Masalah lain yang substansial adalah moral para pendidik. Perlu diingat bahwa anak didik tidak meniru apa yang guru ajarkan, tetapi apa yang guru lakukan. Bagaimana mendidik orang lain, sedangkan diri sendiri tidak dibentuk dengan moral yang baik, etika yang pantas dan disiplin yang memadai. Sangat disayangkan, mendengar insan pendidik yang jarang masuk kelas, atau masuk kelas kalau tunggu hari menjelang terima gaji, selingkuh dengan istri/suami orang, melakukan tindakan asusila dan pelecehan seksual. Kode etik guru hanya sebagai bingkai kosong. Ia hanya terpampang rapi di depan/dalam ruang guru tapi miskin pelaksanaan riil insan pendidik.
Makna Hari Guru
Peringatan hari guru yang tahun ini jatuh pada hari Jumat hendaknya sebagai momen berharga bagi para guru dan insan pendidik agar benar - benar menjadi pendidik yang beretika, professional dan berwawasan luas. Alangkan indahnya bila hari ini, guru bersedia “mendamaikan” diri dengan tugas dan tanggung jawabnya yang luhur itu. Guru mesti berdamai dengan profesinya. Artinya, kembali menyadari profesi guru sebagai panggilan luhur untuk mendidik dan membangun generasi muda. Guru bukan pekerja sambil menanti berapa besar gaji yang naik bulan ini. Guru yang professional tidak bertanya, berapa besar gajinya, tetapi sudahkan murid - murid saya memahami penjelasan saya. Guru tidak bertanya, kapan hari libur, tapi kapan para murid bisa membaca dan menulis. Selain berdamai dengan profesi (diri sendiri), ia juga mesti berdamai dengan lingkungan sekitar. Artinya, mengenal dan memahami peserta didiknya, tidak lekas marah, mengakui kesalahan dan meminta maaf sekalipun terhadap siswa, peka terhadap pengetahuan yang baru dan mau membuka diri terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Jangan sampai terungkap guru “gaptek”. Siswa lebih tahu dari guru.
Akhirnya, profesi sebagai guru adalah panggilan suci nan luhur. Tugas dan tanggung jawabnya juga terasa berat. Guru tidak saja mengajar tetapi mendidik. Guru tidak hanya mengucapkan tetapi bisa mencontohkan. Sadar akan tugas dan tanggung jawab yang besar dan mulia ini, maka tidak lain adalah belajar dan terus belajar. Bukan saja siswa belajar tetapi guru juga harus terus belajar. Dengan demikian, harapan kemajuan pendidikan di kabupaten Ende semakin terwujud dan sebutan Ende sebagai “Kota Pendidikan” menjadi nyata.
Selasa, 15 November 2011
Makna Logo dan Maskot Sea Games 2011
Pembukaan Sea Games 2011 terasa spektakuler. Melengkapi tanggal cantik pada upacara pembukaan yakni 11 November 2011 atau 11/11/11. Makna Logo Sea Games 2011
- Logo utama berupa Burung Garuda dengan filosofi “Garuda Terbang di Atas Alam Indonesia”. Sebagai lambang negara, Burung Garuda di ranah global dikenal luas dan langsung terasosiasikan dengan Indonesia.
- Secara fisik, Burung Garuda melambangkan kekuatan dan kepak sayapnya merepresentasikan kemegahan atau kejayaan.
- Pada logo tersebut, bagian kepala diberi guratan warna merah perlambang keberanian, semangat juang, semangat bertanding yang juga mencerminkan nasionalisme. Tarikan guratan hijau berbentuk gunung melambangkan alam pegunungan Indonesia dan guratan gelombang warna biru melambangkan samudera nusantara.
- Konsepnya, Burung Garuda yang perkasa bak sosok pengayom dan pelindung; terbang tinggi di atas bumi Pertiwi yang kaya akan sumber daya alam hutan, gunung, serta bahari.
Semangat inilah yang kiranya mampu menginspirasi atlet Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Bangga akan negeri sendiri dan secara sportif bertanding dengan negara – negara sahabat. - Sebelas lingkaran kecil berwarna jingga yang membentuk lingkaran besar menyerupai kelopak adalah representasi dari 11 negara peserta
Makna Maskot Sea Games 2011
Komodo adalah satwa langka dunia dan juga merupakan kebanggaan Indonesia. Modo dan Modi merupakan figur maskot resmi SEA Games 2011. Modo dan Modi sebagai maskot melambangkan kepribadian pekerja keras, jujur, adil, ramah, bersahabat, dan sportif. Sifat Modo dan modi yang serba positif dan mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia ini diharapkan dapat melestarikan keharmonisan kerjasama dan persahabatan sesama negara peserta SEA Games.
Kamis, 10 November 2011
Makna Hari Pahlawan
Setiap tanggal 10 November tahun bangsa kita merayakan Hari Pahlawan. Pada saat itulah kita mengenang jasa para pahlawan yang telah bersedia mengorbankan jiawa,raga dan hartanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Mengapa tanggal 10 November dipilih sebagai Hari Pahlawan karena pada saat itu para pejuang kita bertempur mati-matian untuk melawan tentara Inggris di Surabaya.Padahal saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang menggunakan bambu runcing. Namun para pejuang kita tak pernah gentar untuk melawan penjajah. Kita masih ingat tokoh yang terkenal pada saat perjuangan itu yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya. Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat hanya seremonial saja. Memang kita tidak ikut mengorbankan nyawa seperti para pejuang di Surabaya pada waktu itu.Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November.Akan tetapi kepahlawanan tidak hanya sekedar itu saja. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan Indonesia yang bersih dan bebas korupsi. Negeri kita sedang diwarnai kasus korupsi yang sudah mencapai stadium terakhir. Karena sudah melibatkan para pejabat tinggi dan yang paling menyedihkan sudah melibatkan para penegak hukumnya sendiri. Yang semestinya mereka membantu membrantas korupsi namun sekarang kebalikan dari semua itu. Dan kita sangat membutuhkan orang-orang berani untuk memberantasnya.Karena korupsi adalah akar dari kehancuran sebuah Negara. Karekteristik seorang pahlawan adalah jujur,pemberani,dan rela melakukan apapun demi kebaikan dan kesejahteraan orang banyak.
Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing.Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang.





