Minggu, 01 Mei 2016
Manfaat Kesehatan Dari Makan Menggunakan TANGAN
Makan menggunakan tangan tentu terdengar aneh dan primitif serta pasti banyak orang yang merasa tidak tertarik melakukannya. Namun, cara yang disebut “primitif” itu ternyata merupakan cara makan yang lebih sehat, dan percaya atau tidak, cara itu ternyata dapat menjaga kondisi kesehatan Anda.Seperti diberitakan Indiatimes, Kamis (24/3/2016), ajaran Ayurvedic mencatat, setiap jari merupakan perpanjangan dari lima elemen. Anak-anak pada usia balita akan mengisap ibu jari karena ini adalah cara alami untuk membantu pencernaan.
Selain itu, jari telunjuk merujuk pada udara, jari manis merujuk bumi, jari tengah adalah api, dan jari kelingking adalah air. Ketidakseimbangan setiap elemen ini benar-benar dapat menyebabkan banyak penyakit atau gangguan dalam tubuh.
Ketika kita makan, jari dan jempol akan bersama-sama menjaga keseimbangan. Jika Anda mengalami gangguan pencernaan, cobalah makan dengan tangan karena ujung jari adalah memiliki sensasi saraf dalam tubuh.
Berikut ada beberapa manfaat kesehatan dari makan menggunakan tangan, seperti dimuat Healtsite.
1. Memperbaiki pencernaan
Ketika kita menyentuh makanan dengan tangan kita, otak memberi sinyal perut kalau kita akan makan. Kebiasaan ini membantu pencernaan lebih baik karena kita akhirnya fokus pada makanan dan sadar memegang seberapa besar jumlahnya.
2. Melindungi mulut
Tangan juga dapat bertindak sebagai sensor suhu yang sangat efektif. Ketika Anda menyentuh makanan panas misalnya, hal ini dapat mencegah mulut dari sensasi terbakar.
3. Mengurangi risiko diabetes
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Nutrition menemukan, makan cepat berisiko tinggi mengalami Diabetes tipe 2. Jika Anda perhatikan, seberapa sering Anda menggunakan alat makan? Mungkin Anda bisa mencoba menggunakan tangan ketika makan, dan lihat kecepatan yang bisa dikurangi.
Rabu, 27 April 2016
6 Tokoh-tokoh Terkenal Tanah Air yang Moksa atau Menghilang Tanpa Bekas
Mungkin tidak banyak orang yang mengenal istilah moksa atau secara artian mudah adalah meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad alias menghilang tanpa jejak. Menurut tulisan di Wikipedia, moksa adalah sebuah konsep dari agama Hindu dan Buddha yang memiliki artian yaitu melepaskan dari segala ikatan duniawi serta putaran reinkarnasi kehidupan fana. Istilah ini sudah dikenal sejak beratus-ratus tahun lamanya atau sejak zaman kerajaan.
Berbicara masalah moksa, ada beberapa tokoh terkenal di Indonesia yang menurut cerita dan diyakini banyak orang mengalami moksa atau hilang tak berbekas, bahkan sampai sekarang tidak diketahui keberadaan apalagi jasadnya. Berikut ini adalah orang-orang terkenal di Indonesia yang moksa atau menghilang tanpa bekas.
1. Prabu Siliwangi
Prabu Siliwangi adalah salah satu Raja Pajajaran yang cukup terkenal dan sakti mandraguna. Dia memiliki banyak pengikut serta membuat Negeri Sunda menjadi terkenal seantero Nusantara. Ketika ajaran agama Islam masuk ke Tanah Air, dia mendapatkan desakan agar meninggalkan agama terdahulu dan menjadi seorang mualaf.
Perabu siliwagi
2. Prabu Brawijaya V
Seperti halnya Prabu Siliwangi, Prabu Brawijaya V adalah raja ke sekian dari Majapahit yang memutuskan untuk moksa setelah melarikan diri karena kerajaannya dihancurleburkan oleh Kerajaan Kediri.
Prabu Brawijaya V
3. Mahapatih Gajah Mada
Ada dua versi mengenai masa akhir dari Mahapatih Gajah Mada, yaitu pertama dia diceritakan mengalami sakit dan pada akhirnya meninggal dunia pada tahun 1364. Hal ini seperti yang tertulis pada Kitab Kakawin Nagarakretagama.
Mahapatih Gajah mada
4. Prabu Jayabhaya
Dikenal dengan nama Prabu Jayabhaya atau Jayabaya, dia adalah raja kerajaan salah satu pewaris tahta Prabu Erlangga (Airlangga) yang mendapatkan jatah wilayah di Jenggala (Kediri). Saudaranya, Jayasabha (Jayasaba) adalah pemilik jatah wilayah lainnya yang berpusat di Panjalu (Daha). Kedua saudara ini terus menerus berperang untuk mendapatkan wilayah dan pada akhirnya Jayabasha kalah dan seluruh Jawa Timur dikuasai oleh Jayabaya dengan pusat di Kediri.
Prabu Jayabhaya
5. Sabdo Palon Noyo Genggong
Menurut banyak pakar, Sabdo Palon Noyo Genggong merupakan nama lain dari Semar atau salah satu dari Punokawan. Walaupun banyak orang yang mengatakan bahwa Punokawan termasuk Semar di dalamnya adalah tokoh fiktif, namun tidak sedikit yang mempercayainya.
Sabdo Palon Noyo Genggong
6. Supriyadi
Memang, sampai sekarang kisahnya masih simpang siur dan tidak pasti akan kebenarannya. Ada yang mengatakan bahwa Supriyadi meninggal sewaktu memberontak dari Jepang yang kala itu menjajah Indonesia dan ada pula yang mengatakan bahwa pria asal Blitar ini menghilang tanpa bekas alias moksa.
Supriyadi
Mungkin banyak orang yang tidak percaya akan “kejadian” moksa seperti yang berlaku pada orang atau tokoh-tokoh terkenal di atas, namun secara turun temurun, cerita menghilangnya orang-orang tersebut telah diyakini kebenarannya dan terus dilestarikan sampai sekarang. Percaya atau tidak, hanya Anda sendiri yang dapat menentukannya.
Selasa, 19 April 2016
5 Senjata Paling Lebay Sepanjang Sejarah
Sepanjang sejarah, manusia telah mengembangkan senjata baru yang tentu saja diharapkan sangat mematikan ketika diajak bertempur. Beberapa sistem telah terbukti efektif dan menunjukkan reputasi brutal. Tetapi tidak sedikit yang justru hanya menjadi proyek sia-sia. Senjata yang dihasilkan justru tidak efektif. Berikut adalah lima senjata-beberapa yang paling berlebihan sepanjang sejarah.
1. The Battleship
Battleship atau kapal perang dengan ukuran besar muncul pertama dengan HMS Dreadnought ketika memasuki layanan dengan Angkatan Laut Kerajaan Inggris pada tahun 1906. Pada saat itu desainnya sangat revolusioner. Tidak seperti kapal perang generasi sebelumnya, Dreadnought dipersenjatai dengan persenjataan yang semuanya besar yakni sepuluh meriam 12 inch. Ketika kapal ini datang, kapal perang lain langsung menjadi usang.
Namun kapal perang generasi jumbo ini sangat mahal dan fungsinya lebih banyak digunakan untuk masa damai sehingga hanya untuk menunjukkan kekuatan nasional. Akhrinya umurnya habis untuk berlayar saja. Ketika perang, kapal besar ini juga jarang sekali berada di garis depan pertempuran karena sifat lamban mereka pun sebagian besar hanya jadi pertunjukan.
Satu-satunya dreadnoughts terlibat dalam duel di Jutland selama Perang Dunia I. Tetapi di pertempuran ini pun Angkatan Laut justru takut kapal raksasa dan mahal tersebut rusak.
Selanjutnya, selama Perang Dunia II, banyak kapal perang hancur karena serangan udara. Menjelang akhir perang, dengan kekuatan udara menjadi dominan, kapal besar menjadi target empuk serangan udara.
Kapal perang terbesar ini pun memunculkan perdebatan. Kapal raksasa dinilai justru menghambat perang dan terlalu memakan biaya besar yang seharusnya bisa digunakan untuk sektor lain. Jerman setelah kapal raksasa meraka Bismarck dan Tirpitz dihancurkan dari udara oleh pembom Lancaster Inggris akhirnya memilik kembali ke model fjord Norwegia. Sementara itu kapal besar seberat 72.000 ton Yamato dan yang lebih kecil Musashi keduanya milik Jepang juga tenggalam oleh kekuatan udara yang berbasis kapal induk.
2. Tank Tiger I
Nazi Jerman Panzerkampfwagen VI Tiger Ausf.E, biasanya disebut Tiger, adalah salah satu tank yang paling ditakuti di arsenal Wehrmacht dan Waffen-SS. Tank ini berukuran raksasa dengan baju besi frontal tebal yang hampir tak tertembus oleh senjata anti-tank pada masanya. Dia juga memiliki meriam besar 88mm. Ditempatkan di batalyon tank independen, Tiger menjadi reputasi menakutkan.
Namun, Tiger sudah usang pada saat itu diterjunkan pada 1942 karena tidak memiliki fitur seperti baju besi miring. Tank ini juga mengalami over-engineered dan mahal. Boros bahan bakar dan sering rusak. Nazi akhirnya hanya berhasil membangun 1.347 Tiger. Sebagai perbandingan, Soviet membangun lebih dari 60.000 tank T-34 Panther
Tank Panther lebih kecil, lebih cepat, dan lebih bermanuver, sedangkan senjata yang 75mm yang memiliki jauh lebih tinggi moncong velocity- memiliki kinerja penetrasi baja lebih baik dari meriam 88mm Tiger. Panther juga lebih terlindungi dari depan dengan armor miring 80mm, yang menawarkan kinerja yang unggul dibandingkan dengan Tiger 100mm dari pelat baja datar. Lebih penting lagi, Panther separuh lebih murah dibanding Tiger dan bisa diproduksi lebih cepat.
3. Ilyushin Il-2 Sturmovik
Ilyushin Il-2 Sturmovik adalah pesawat serangan darat mencapai status hampir mitologis dalam militer Soviet selama Perang Dunia II. Soviet membangun lebih dari 36.000 pesawat tempur yang diberi sebutan Great Patriotic War di Rusia. Il-2 meningkatkan moral pasukan darat Tentara Merah, tetapi efektifitasnya justru benar-benar dipertanyakan.
Aircrew Soviet yang terbang dengan Sturmovik menderita kerugian besar ketika melawan Luftwaffe selama Front Timur. Pesawat ini ternyata tidak memiliki kemampuan manuver tinggi. Dia juga tidak membawa bom besar terutama bila dibandingkan dengan P-47 Thunderbolt dan Hawker Typhoon milik negara Barat. Parahnya lagi, pesawat ini juga tidak akurat dalam menjatuhkan senjata. Jadi, meskipun memperoleh reputasi mistis dan menakutkan Il-2 justru banyak mengalami kekalahan.
4. Norden Bombsight
Norden bombsight adalah inovasi Perang Dunia II lain dengan reputasi yang jauh dari apa yang diharapkan. Militer AS menghabiskan anggaran 1,5 miliar dolar AS. Jumlah yang luar biasa untuk tahun 1940 untuk mengembangkan bombsight tersebut. Untuk perbandingan seluruh seluruh Manhattan Project yang menghasilan bom atom hanya menghabiskan sekitar 3 miliar dolar.
Sayangnya, bombsight benar-benar payah. Bahkan, kurang dari 50 persen dari bom yang dijatuhkan menghancurkan seperempat mil dari target. Angkatan Laut, misalnya, mengakui masalah awal dan beralih ke menyelam pengeboman segera. Inggris-juga mengakui kesia-siaan presisi bom-bom untuk seluruh kota di Jerman.
Presisi serangan udara benar-benar tidak layak sampai munculnya bom dipandu laser menjelang akhir Perang Vietnam. Sekarang, tentu saja, ada bom dipandu GPS, yang membuat serangan jauh lebih mudah-setidak-tidaknya untuk pilotnya. Untuk target tentu ini sangat merepotkan.
5. Jet Tempur Generasi Kelima
Salah satu contoh paling modern dari senjata yang terlalu berlebihan adalah pesawat tempur generasi kelima. Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 470 miliar dollar AS pada F-22 dan F-35, tetapi biaya pesawat ini begitu banyak dan butuh waktu lama untuk mengembangkan, mereka sudah usang dalam beberapa kasus. Sebagai contoh, sensor elektro-optik yang dibenamkan di hidung F-35 sudah 10 tahun dipasang dan belum juga pesawat itu beroperasi. Apa iya tidak ketinggalan jaman dengan perkembangan teknologi yang sedemikian cepat.
Selain itu juga dibutuhkan biaya lebih dari satu triliun dolar untuk menjaga pesawaat ini dalam pelayanan. Dengan kata lain biaya pemeliharaan pesawat siluman juga teramat mahal. Pesawat tersebut juga harus dimodifikasi untuk menjaga mereka tetap relevan dengan keadaan.
Tapi musuh tidak tinggal diam. Rusia dan China sudah bekerja pada pertahanan udara jaringan baru digabungkan dengan radar baru yang beroperasi di UHF dan VHF yang mengancam untuk menetralisir investasi besar-besaran Amerika di jet tempur generasi kelima.
Menurut para ahli industri, akhirnya musuh akan dapat memandu senjata dengan radar band UHF dan VHF -yang akan menetralisir kemampuan siluman F-22 dan F-35. Akhirnya banyak uang yang justru terbuang sia-sia.
1. The Battleship
Battleship atau kapal perang dengan ukuran besar muncul pertama dengan HMS Dreadnought ketika memasuki layanan dengan Angkatan Laut Kerajaan Inggris pada tahun 1906. Pada saat itu desainnya sangat revolusioner. Tidak seperti kapal perang generasi sebelumnya, Dreadnought dipersenjatai dengan persenjataan yang semuanya besar yakni sepuluh meriam 12 inch. Ketika kapal ini datang, kapal perang lain langsung menjadi usang.
Namun kapal perang generasi jumbo ini sangat mahal dan fungsinya lebih banyak digunakan untuk masa damai sehingga hanya untuk menunjukkan kekuatan nasional. Akhrinya umurnya habis untuk berlayar saja. Ketika perang, kapal besar ini juga jarang sekali berada di garis depan pertempuran karena sifat lamban mereka pun sebagian besar hanya jadi pertunjukan.
Satu-satunya dreadnoughts terlibat dalam duel di Jutland selama Perang Dunia I. Tetapi di pertempuran ini pun Angkatan Laut justru takut kapal raksasa dan mahal tersebut rusak.
Selanjutnya, selama Perang Dunia II, banyak kapal perang hancur karena serangan udara. Menjelang akhir perang, dengan kekuatan udara menjadi dominan, kapal besar menjadi target empuk serangan udara.
Kapal perang terbesar ini pun memunculkan perdebatan. Kapal raksasa dinilai justru menghambat perang dan terlalu memakan biaya besar yang seharusnya bisa digunakan untuk sektor lain. Jerman setelah kapal raksasa meraka Bismarck dan Tirpitz dihancurkan dari udara oleh pembom Lancaster Inggris akhirnya memilik kembali ke model fjord Norwegia. Sementara itu kapal besar seberat 72.000 ton Yamato dan yang lebih kecil Musashi keduanya milik Jepang juga tenggalam oleh kekuatan udara yang berbasis kapal induk.
2. Tank Tiger I
Nazi Jerman Panzerkampfwagen VI Tiger Ausf.E, biasanya disebut Tiger, adalah salah satu tank yang paling ditakuti di arsenal Wehrmacht dan Waffen-SS. Tank ini berukuran raksasa dengan baju besi frontal tebal yang hampir tak tertembus oleh senjata anti-tank pada masanya. Dia juga memiliki meriam besar 88mm. Ditempatkan di batalyon tank independen, Tiger menjadi reputasi menakutkan.
Namun, Tiger sudah usang pada saat itu diterjunkan pada 1942 karena tidak memiliki fitur seperti baju besi miring. Tank ini juga mengalami over-engineered dan mahal. Boros bahan bakar dan sering rusak. Nazi akhirnya hanya berhasil membangun 1.347 Tiger. Sebagai perbandingan, Soviet membangun lebih dari 60.000 tank T-34 Panther
Tank Panther lebih kecil, lebih cepat, dan lebih bermanuver, sedangkan senjata yang 75mm yang memiliki jauh lebih tinggi moncong velocity- memiliki kinerja penetrasi baja lebih baik dari meriam 88mm Tiger. Panther juga lebih terlindungi dari depan dengan armor miring 80mm, yang menawarkan kinerja yang unggul dibandingkan dengan Tiger 100mm dari pelat baja datar. Lebih penting lagi, Panther separuh lebih murah dibanding Tiger dan bisa diproduksi lebih cepat.
3. Ilyushin Il-2 Sturmovik
Ilyushin Il-2 Sturmovik adalah pesawat serangan darat mencapai status hampir mitologis dalam militer Soviet selama Perang Dunia II. Soviet membangun lebih dari 36.000 pesawat tempur yang diberi sebutan Great Patriotic War di Rusia. Il-2 meningkatkan moral pasukan darat Tentara Merah, tetapi efektifitasnya justru benar-benar dipertanyakan.
Aircrew Soviet yang terbang dengan Sturmovik menderita kerugian besar ketika melawan Luftwaffe selama Front Timur. Pesawat ini ternyata tidak memiliki kemampuan manuver tinggi. Dia juga tidak membawa bom besar terutama bila dibandingkan dengan P-47 Thunderbolt dan Hawker Typhoon milik negara Barat. Parahnya lagi, pesawat ini juga tidak akurat dalam menjatuhkan senjata. Jadi, meskipun memperoleh reputasi mistis dan menakutkan Il-2 justru banyak mengalami kekalahan.
4. Norden Bombsight
Norden bombsight adalah inovasi Perang Dunia II lain dengan reputasi yang jauh dari apa yang diharapkan. Militer AS menghabiskan anggaran 1,5 miliar dolar AS. Jumlah yang luar biasa untuk tahun 1940 untuk mengembangkan bombsight tersebut. Untuk perbandingan seluruh seluruh Manhattan Project yang menghasilan bom atom hanya menghabiskan sekitar 3 miliar dolar.
Sayangnya, bombsight benar-benar payah. Bahkan, kurang dari 50 persen dari bom yang dijatuhkan menghancurkan seperempat mil dari target. Angkatan Laut, misalnya, mengakui masalah awal dan beralih ke menyelam pengeboman segera. Inggris-juga mengakui kesia-siaan presisi bom-bom untuk seluruh kota di Jerman.
Presisi serangan udara benar-benar tidak layak sampai munculnya bom dipandu laser menjelang akhir Perang Vietnam. Sekarang, tentu saja, ada bom dipandu GPS, yang membuat serangan jauh lebih mudah-setidak-tidaknya untuk pilotnya. Untuk target tentu ini sangat merepotkan.
5. Jet Tempur Generasi Kelima
Salah satu contoh paling modern dari senjata yang terlalu berlebihan adalah pesawat tempur generasi kelima. Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 470 miliar dollar AS pada F-22 dan F-35, tetapi biaya pesawat ini begitu banyak dan butuh waktu lama untuk mengembangkan, mereka sudah usang dalam beberapa kasus. Sebagai contoh, sensor elektro-optik yang dibenamkan di hidung F-35 sudah 10 tahun dipasang dan belum juga pesawat itu beroperasi. Apa iya tidak ketinggalan jaman dengan perkembangan teknologi yang sedemikian cepat.
Selain itu juga dibutuhkan biaya lebih dari satu triliun dolar untuk menjaga pesawaat ini dalam pelayanan. Dengan kata lain biaya pemeliharaan pesawat siluman juga teramat mahal. Pesawat tersebut juga harus dimodifikasi untuk menjaga mereka tetap relevan dengan keadaan.
Tapi musuh tidak tinggal diam. Rusia dan China sudah bekerja pada pertahanan udara jaringan baru digabungkan dengan radar baru yang beroperasi di UHF dan VHF yang mengancam untuk menetralisir investasi besar-besaran Amerika di jet tempur generasi kelima.
Menurut para ahli industri, akhirnya musuh akan dapat memandu senjata dengan radar band UHF dan VHF -yang akan menetralisir kemampuan siluman F-22 dan F-35. Akhirnya banyak uang yang justru terbuang sia-sia.
Rabu, 30 Maret 2016
Gunung Prau, Simfoni Pagi Di Dataran Tinggi
Sekitar tiga atau empat tahun lalu tidak banyak orang yang mendaki Gunung Prau. Jangankan pergi mendaki, lokasi keberadaan Gunung Prau pun hanya sedikit yang tahu. Beda halnya jika yang disebutkan adalah Dataran Tinggi Dieng, pasti sebagian besar sudah tahu dan pernah menyambanginya. Padahal, Gunung Prau termasuk dalam gugusan gunung-gemunung yang mengitari Dataran Tinggi Dieng. Gunung setinggi 2.565 meter di atas permukaan laut ini mulai dikenal luas oleh publik pada medio 2013. Berawal dari foto keindahan gunung yang bersliweran di linimasa social media, para pejalan pun lantas berbondong-bondong menyambanginya. Hingga akhirnya pada tahun 2015 Gunung Prau menjadi salah satu top destinasi yang selalu ramai dikunjungi.
Tentunya bukan tanpa alasan jika gunung ini mendadak ramai peminat. Pemandangan nan indah adalah salah satu alasan utama kenapa gunung ini ramai tiap akhir pekan atau liburan. Di saat fajar tiba, kamu bisa menyaksikan cakrawala yang berubah warna dengan siluet gunung-gemunung nan megah. Gunung-gunung besar seperti Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, terlihat dengan jelas. Hamparan kabut tipis yang menyelimuti kaki gunung atau gumpalan awan putih yang menudungi puncak menjadi panorama yang menenteramkan sekaligus membius siapa pun yang menyaksikannya. Belum lagi hamparan gundukan bukit berumput hijau mirip di film teletubbies semakin mempercantik suasana.
Selain panoramanya yang indah, alasan lainnya yang menjadikan gunung ini begitu populer adalah treknya yang terbilang mudah dan jarak tempuh yang tidak terlalu lama. Bagi yang sudah terbiasa mendaki, cukup trekking 2 hingga 3 jam maka kamu sudah bisa sampai puncak. Bahkan bagi pemula pun terbilang cukup mudah. Akses menuju Gunung Prau pun tidak terlalu sulit. Kamu cukup mengambil jalur menuju Dataran Tinggi Dieng dan berhenti di daerah Patak Banteng. Usai mendaki Gunung Prau, kamu bisa melanjutkan perjalanan menuju tempat-tempat eksotis lainnya seperti Kawah Sikidang, Puncak Sikunir, Kompleks Candi Arjuna, Telaga Warna, Telaga Pengilon, dan masih banyak lainnya.
Membaca serta mendengar review-nya yang begitu menarik, membuat saya tak sabar untuk menyambangi Gunung Prau dan mendirikan tenda di puncaknya. Akhirnya kesempatan itu pun datang. Bersama beberapa kawan, saya meluncur dari Yogyakarta menuju Wonosobo. Berhubung ini awal musim penghujan, maka bulir-bulir air terus saja menetes dari langit menemani perjalanan kami. Tapi itu bukan masalah yang berarti.
Saya memang memilih mendaki di awal musim penghujan karena pada saat itu vegetasi mulai tumbuh di sepanjang jalur pendakian sehingga tanah tidak lagi kering dan berdebu akibat musim kemarau. Jika sedang dinaungi dewi fortuna, para pendaki bisa melihat sunset maupun sunrise yang indah. Selain itu alasan lainnya adalah pada musim seperti ini wisatawan sudah mulai enggan berkegiatan di luar ruangan, sehingga jalur pendakian mulai sepi dan bisa saya nikmati sepuasnya.
Dalam perjalanan kali ini saya memilih untuk mendaki melalui jalur Desa Patak Banteng, Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah atau yang dikenal dengan nama basecamp Patak Banteng. Saat berbincang dengan warga saya baru tau kisah di balik nama Patak Banteng. Dalam bahasa lokal “patak” berarti kepala, jadi patak banteng adalah kepala hewan banteng. Menurut cerita warga, dahulu ada seekor banteng yang ditebas kepalanya dan kepala tersebut dikubur di desa tersebut. Lalu badannya dikubur di tempat lain yang bernama Sebanteng. Kini Sebanteng berubah menjadi lahan pertanian warga Dieng. Aneh memang, tetapi menarik. Sebenarnya selain melalui jalur Patak Banteng, kamu juga bisa mendaki Gunung Prau dari jalur Dieng dan Kendal.
Hujan pun reda tatkala kami tiba di basecampPatak Banteng. Kami disambut oleh benda kecil berwarna putih yang melayang-layang di udara dalam jumlah yang tidak sedikit. Saya pikir salju juga turun di Dieng, ternyata saya salah. Menurut salah satu penjaga basecamp Gunung Prau yang juga tergabung dalam kelompok The Bulls Egg Adventure (kelompok pengelola wisata pendakian Gunung Prau), benda putih tersebut adalah hama tumbuhan. Warga Patak Banteng menyebutnya kutu daun (Bemisia Tabaci) atau internasionalnya lebih dikenal dengan nama Silverleaf Whitefly. Dibasecamp pendakian Gunung Prau ini kami beristirahat sejenak dan melakukan repackingserta melakukan registrasi pendakian.
Pendakian Gunung Prau Pun Dimulai
Setelah tenaga mulai pulih dan perijinan pendakian Gunung Prau sudah di tangan, kami pun bersiap untuk melakukan pendakian. Seperti biasa, sebelum pendakian dimulai kami melakukan peregangan otot untuk mengurangi resiko cidera ketika menapaki jalur Gunung Prau. Usai peregangan, kami berdoa sejenak supaya pendakian kali ini bisa berjalan lancar hingga pulang nanti. Menurut salah satu anggota The Bulls Egg Adventure, pendakian Gunung Prau viabasecamp Patak Banteng sekitar 3 jam dengan beban ringan dan jalan konsisten. Ok lah akan kami coba.
Basecamp – Pos I Gunung Prau
Dengan semangat membara dan sedikit rasa ragu karena sudah lama tidak melakukan pendakian gunung, saya dengan ransel 80 liter pun mulai melangkahkan kaki. Awal dari jalur pendakian Gunung Prau adalah melewati pemukiman penduduk Desa Patak Banteng. Kami juga melewati beberapa anak tangga. Lalu setelah itu kami melewati perkebunan penduduk. Saat itu lahan-lahan masih dalam proses penanaman pohon kentang, jadi terlihat gundul.
Tak lama kemudian kami menemukan Pos I pendakian Gunung Prau yang oleh warga diberi nama “Sikut Dewo”, dalam bahasa Indonesianya adalah sikut dewa. Disini terdapat gubug kecil yang biasa digunakan sebagai tempat berjualan makanan dan minuman bagi para pendaki. Entah apa maksud mereka memberi nama seperti itu. “Ampuh tenan iki mesti”, celetukan teman saya yang mulai memucat wajahnya. “Kok iso?”, sanggah saya dengan napas tersengal-sengal. “La wong sikute dewe nggo mbandem uwong wae mesti loro, po meneh sikute dewo. Ajur mesti gununge”, jawab rekan saya dengan sedikit mengkerutkan keningnya.
Entah mengapa kami membahas nama Pos I Gunung Prau tersebut. Sepertinya kami sedang mengalami kondisi hipoksia serebral. Memang di awal tadi kami memacu langkah kami dengan sangat cepat, jadi mungkin ini hasilnya. Jika kamu tidak ingin terlalu lelah, kamu bisa naik ojek dari basecamp hingga Pos I ini. Ongkos ojek sebesar Rp 10.000 per orang.
Pos I – Pos II Gunung Prau
Nafas kami mulai stabil dan kaki sudah mulai panas serta mendapatkan ritmenya. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian Gunung Prau berikutnya. Malam itu pendar sinar sang rembulan menuntun perjalanan kami dari Pos I hingga Pos II. Selama perjalanan, kami acapkali menemukan bangunan non permanen milik warga yang digunakan untuk berjualan, tetapi saat itu kami tidak menemukan satu pun warung yang buka. Mereka hanya buka di pagi dan siang hari serta di malam-malam tertentu tatkala banyak orang yang mendaki.
Pos II – Pos III Gunung Prau
Setelah melewati warung-warung warga, kami memasuki hutan pinus. Antara warung warga dan hutan pinus itulah Pos II Gunung Prau.Pada etape ini sensasi mendaki gunung sudah mulai terasa akibat kawasan yang didominasi vegetasi pinus. Ya walau pun sesekali masih bisa melihat pemukiman warga di bawah dan mendengar suara kendaraan serta sayup-sayup suara dari pengeras suara. Meski begitu suasana tetap asyik.
Saat itu rembulan sedang terlihat bundar sempurna dengan pendaran yang begitu cemerlang. Langit pun terlihat sangat bersih dan berhiaskan taburan gemintang. Pada etape pendakian ini, jalur mulai terjal dan menanjak.
Pos III – Puncak Gunung Prau
Setelah melewati hutan pinus yang cukup lebat, suasana jalur berubah sedikit demi sedikit. Vegetasi pun mulai berkurang. Kerumunan pohon pinus sedikit demi sedikit berkurang menjadi rumpun perdu. Batu-batu vulkanik pun mulai setia menemani perjalanan kami menuju puncak Gunung Prau.
Sebelum puncak Gunung Prau, kami disuguhi pemandangan hamparan bunga daisy yang cukup luas di tanah bergunduk menyerupai bukit-bukit teletubbies. Saat itu hamparan bunga daisy terpapar sinar rembulan yang lembut. Jika kami melihatnya di pagi hari pasti akan jauh lebih indah. Tidak jauh dari hamparan bunga daisy, terdapatcamping ground. Tapi kami tidak berhenti disitu melainkan melangkah terus menuju puncak, karena kami ingin mendirikan tenda di puncak Gunung Prau.
Sesampainya di puncak Gunung Prau, kami disambut oleh halimun tebal. Total durasi perjalanan kami sekitar 2,5 jam. Tidak ambil pusing dengan kabut di Gunung Prau, kami pun mendirikan tenda yang telah kami bawa dan salah satu aktivitas ketika di gunung pun saya mulai, yaitu memasak. Sangat asik sekali memasak di Gunung Prau. Usai memasak kami beristirahat di dalam tenda.
Setelah beberapa waktu telapak kaki mulai terasa sangat dingin dan badan mulai bergetar tidak berirama. Sepertinya ini sudah jam 4 pagi. Akhirnya kami pun keluar untuk menyaksikan kemegahan bentang alam serta gunung-gemunung di sekitar Gunung Prau yang akan diguyur pendaran sinar sang surya.
Perlahan mentari mulai muncul dari peraduannya. Gunung-gemunung yang berada di kejauhan mulai terlihat samar. Jika cuaca cerah, para pendaki bisa melihat banyak puncak gunung. Tetapi saat itu yang saya lihat hanya Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Mungkin karena intensitas hujan cukup tinggi sehingga mengakibatkan banyak uap yang naik ke permukaan karena sinar dan panas sang surya. Meski begitu saya tak pernah menyesal. Menyaksikan pagi dari puncak tinggi selalu memberikan energi.
Lokasi dan Akses Jalur Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng
Gunung Prau ini terletak di tiga kabupaten di Jawa Tengah, yakni Wonosobo, Kendal dan Batang. Semua kabupaten memiliki jalur pendakian menuju puncak Gunung Prau. Sampai saat ini ada sekitar 5 jalur pendakian, mungkin dibuat untuk memecah kepadatan pengunjung di satu jalur ketika ingin mengadakan pendakian Gunung Prau.
Jalur pendakian Gunung Prau antara lain jalur Patak Banteng (Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Kabupatan Wonosobo), jalur Kali Lembu (Desa Kali Lembu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo) jalur Dieng Kulon (Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara), jalur Kenjuran (Kecamatan Sukerejo, Kabupaten Kendal) dan jalur Pranten (Kecamatan Bawang, Kabupaten Kendal).
Kali itu kami memilih untuk menapaki jalur pendakian Patak Banteng. Jalur pendakian Gunung Prau via Patak Banteng ini dahulu memang berada di Balai Desa/Kantor Kelurahan Patak Banteng. Tetapi pada bulan April 2015, basecamp Patak Banteng berdiri sendiri dan dikelola oleh kelompok peduli lingkungan dengan nama The Bulls Eggs.
Untuk menuju basecamp Patak Banteng ataupun Kali Lembu (karena basecamp pendakian Gunung Prau ini berdekatan) kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
Jika kamu dari Yogyakarta dan menggunakan kendaraan umum, kamu bisa memulai perjalanan dari Terminal Giwangan atau Jombor, pilih bus dengan trayek Jogja – Semarang dan turun di Terminal Magelang. Dari Terminal Magelang pilih bus dengan trayek Magelang – Wonosobo dan turun di Terminal Induk Wonosobo. Setelah itu teruskan perjalananmu menuju Dieng menggunakan bus kecil atau elf dan turun di Desa Patak Banteng ataupun Desa Kali Lembu.
Retribusi Gunung Prau
Tiket masuk jalur pendakian: Rp.10.000
Tarif ojek dari basecamp – Pos I: Rp 10.000
Sewa Porter per hari: Rp. 150.000
Tarif ojek dari basecamp – Pos I: Rp 10.000
Sewa Porter per hari: Rp. 150.000
Tips Mendaki ke Gunung Prau
- Walaupun dekat dan jarak tempuh pendakian Gunung Prau tidak terlalu panjang, tetap persiapan fisik harus diutamakan demi mengurangi resiko kram atau keseleo di bagian otot.
- Di Gunung Prau ini diterapkan sistem buka tutup bagi para wisatawan. Penutupan semua jalur pendakian akan dilakukan pada tanggal 5 Januari hingga 5 April di setiap tahunnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemulihan ekosistem gunung tersebut. Pastikan kamu menjadi pendaki yang beretika dan mematuhi peraturan yang berlaku.
- Masalah pemilihan waktu pendakian, sebenarnya bebas saja. Ini dikarenakan durasi pendakian yang relatif singkat. Tetapi jika ingin mendapatkan momen yang cantik, rencanakan pendakian ke Gunung Prau pada bulan Juni – Agustus. Pada bulan ini intensitas hujan sudah mulai sedikit dan vegetasi di gunung pun masih hijau.
- Jadilah pendaki yang mentaati peraturan yang berlaku dengan cara melakukan pendaftaran atau melapor ke pos pendakian yang akan di daki.
- Namanya gunung pastilah dingin. Terlebih Gunung Prau terletak di Dataran Tinggi Dieng yang memiliki predikat salah satu tempat dingin di Jawa Tengah. Bawalah jaket dan perlengkapan yang bisa melindungi tubuhmu dari rasa dingin.
- Gunakanlah sepatu trekking atau minimal sepatu olahraga. Sebaiknya hindari menggunakan sandal karena sandal tidak bisa melindungi mata kaki dan pergelangan kaki dari hentakan maupun gesekan.
- Ingin mendapatkan cerita lebih ataupun membutuhkan pendamping pendakian? Sewalah guide atau porter lokal.
- Sebenarnya melakukan pendakian solo di Gunung Prau bisa-bisa saja. Tetapi jika merasa tidak yakin dengan kemampuan dan mental ajaklah teman untuk menjadi teman perjalanan menggapai puncak Gunung Prau.
- Pasanglah tenda di camping ground atau lokasi yang sudah tidak ada tumbuhan hidup demi menjaga ekosistem Gunung Prau. Jangan lupa bawa turun semua sampah yang kamu hasilkan selama mendaki. Be a smart climber!













