Rabu, 31 Oktober 2012

VESPA, Solidaritas, dan “Hormat VESPA”

Menjadi pengguna VESPA memiliki beberapa keuntungan.  Salah satunya adalah sapaan yang hangat dari pengguna VESPA yang lain.

Pada tahun 2004-2008, saya menggunakan VESPA di Jakarta. Mulai tahun 2010, kembali saya menggunakan VESPA di Yogyakarta. Entah di Jakarta, atau di JOGJA, sapaan dengan klakson dari pengguna VESPA lain merupakan moment paling menyenangkan ketika mengendari VESPA di jalanan.  Ketika sedang asyik menyusuri kota Yogyakarta, tiba-tiba ada pengendara VESPA yang berpapasan dan membunyikan klakson tanda menyapa. Tak lupa, saya juga kembali menyapa dengan membunyikan klakson saya yang seadanya. Sapaan adalah salah satu upaya membangun relasi. Komunikasi bisa dimulai dengan sebuah sapaan.

Entah sejak kapan, kebiasaan menyapa dengan membunyikan klakson antar pengendara VESPA ini tumbuh laksana jamur. Akhir tahun 1980an, saat Bapak saya juga masih menggunakan VESPA, sapaan saling mengklason antar pengguna VESPA belum banyak (seingat saya). Sekarang, tanpa diminta, setiap pengguna VESPA otomatis akan menyapa pengguna yang lain. Memang kebanyakan pelaku adalah anak muda atau mereka yang masuk dalam komunitas pengguna VESPA, namun lama-kelamaan, semua pengguna VESPA juga melakukannya.

Saya kepingin tahun. Sapaan dengan klakson itu memberi kesan bahwa kita sama, kita adalah sesame pengguna VESPA. Konsekuensi logis dan sapaan sebagai sesama itu adalah bahwa muncul solidaritas. Solidaritas sebagai sesama pengguna VESPA. Menumbuhkan kesadaran sebagai sesama adalah yang pertama, solidaritas akan mengikuti kemudian. Bukankah hal ini sangat mengesankan ? Bisakah dikenakan untuk komunitas di luar pengguna VESPA ?

Pengalaman seorang teman sesama pengguna VESPA menegaskan solidaritas itu. Ketika VESPA-nya mogok di jalan, ada pengguna VESPA lain yang dengan murah hati mendekati dan menolong. Tidak hanya membetulkan, bahkan dia pernah dipinjami ban serep VESPA. Masih menurut cerita teman saya itu, ada beberapa pengguna VESPA yang sengaja putar-putar di JOGJA dengan tujuan menolong pengguna VESPA lain yang mengalami masalah VESPA di jalan. Kembali lagi, saya tertegun dengan ceritera ini. Darimana semua itu berasal ?

Saya mulai menduga-duga, darimana asalnya solidaritas itu ? Aaakah solidaritas itu muncul karena kesamaan nasib ? Nasib yang bagaimana ? Situasi jadi korban ? jadi ingat bagaimana dulu orang-orang nusantara merasa senasib dijajah lalu bersolider berperang.

Pertanyaannya, Mengapa para pengguna bebek tidak punya solidaritas yang sama ? Apakah karena vespa termasuk motor lawas ? Mengapa pengguna motor lawas tidask melakukan hal yang sama ? Yang jelas, bukan karena lawasnya. Lalu darimana solidaritas itu bisa muncul ?

Saya jadi ingin membandingkan dengan para pecinta MOGE. Salah satu hal yang membuat saya jengkel ketika mengendari motor atau mobil di jalan adalah ketika melintas gerombolan pengendara MOGE. Kejengkelan itu muncul karena mereka biasanya menggunakan “Voorijder” dan berjalan kencang, memotong jalan dan tidak menghiraukan pengendara yang lain. Kesan itu bertolak belakang dengan kesan pengguna VESPA yang santai dan menikmati jalan serta identik dengan solidaritas. Sekali lagi, darimana datangnya solidaritasnya ?

Bila memang masih terlalu sulit mencari, baik bila dibiarkan saja. Yang penting adalah bahwa dengan mengendarai VESPA orang bisa bersolider dengan pengendara yang lain. Ada kebanggaan untuk bertindak solider. Identitas sebagai orang yang solider tiba-tiba muncul begitu seseorang mengendarai VESPA.

Kira-kira logika ngawurnya begini : Sesama pengendara Vespa adalah solider. Saya adalah pengendara Vespa. Karena saya pengendara Vespa, saya solider. Sederhana, mungkin tanpa alasan luhur sok moralitas apapun, bahkan bisa karena fashion saja, namun efeknya berlipat ganda. Yang penting kita bisa lihat hasilnya : solidaritas. Bagaimana dengan komunitas lain ?

Tak heran, di kampung-kampung, gerombolan anak yang berjumpa dengan pengendara Vespa akan segera berseru “HORMAT VESPA”…..

Selasa, 18 September 2012

Ratna Somantri Penebar Virus Ngeteh

“Saya lebih suka teh tanpa gula, karena aroma dan rasa aslinya lebih terasa,” ujar Ratna Somantri. Kebiasaan keluarganya untuk mengkonsumsi teh, membawa dirinya menjadi seorang penyebar “virus” ngeteh.

Dari penampilannya sekilas memang tampak biasa. Berparas cantik dan berpenampilan anggun seperti wanita pada umumnya. Pekerjaan yang digelutinya sehari-hari pun tak mencerminkan dirinya sebagai seorang ahli teh.  Untuk keseharian, dirinya bekerja di perusahaan yang didirikan oleh sang suami, sebagai konsultan di Axia World.

Bahkan, dirinya pun tak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang ‘tea speaker’. Keseriusannya mendalami ilmu teh mulai ia tekuni sejak pernikahannya dengan Alexander Mulya, 2005. Dari sinilah, profesi menjadi seorang konsultan teh pun terbentuk dengan sendirinya.
Memiliki hobi traveling bersama suami, membuat ilmu pengetahuannya tentang teh semakin bertambah. Wanita lulusan Jurusan Teknik Industri Universitas Trisakti ini pun kini kerap pergi ke Jepang atau China hanya untuk membeli jenis teh terbaru untuk melengkapi koleksinya. Dan tentu saja untuk menambah jejak ilmu soal minuman para kaisar ini.

“Kecanduan” Teh
Kebiasaan sang ibu yang tak pernah mengkonsumsi air putih, membuat Ratna terbiasa minum teh.  Saat itu dirinya hanya menganggap teh sebagai minuman biasa, dan tidak ada yang istimewa. Perubahan terjadi saat dirinya sekolah ke luar negeri.
 Meninggalkan Indonesia untuk sekolah di Sydney, ternyata tak membuat dirinya jauh dari teh. Kebiasaan keluarga angkatnya yang asal Inggris, membuat ia makin ‘terjerumus’ di antara para pecinta teh. Inggris adalah salah satu negara yang memiliki budaya minum teh. Teh di negerinya Ratu Elizabeth sangat diperhatikan kualitasnya, karena orang Inggris sangat mementingkan cita rasa.
Akhirnya, pecinta anjing ini pun tertarik untuk mengenal teh lebih dalam. Mulai dari sejarah, jenis, karakter, cara menyeduh, teknik penyajian, hingga budaya tradisi teh di belahan dunia.
Menabung Ilmu Lewat Traveling

Memiliki hobi traveling membawa wanita kelahiran tahun 1978  ini mengunjungi China dan Jepang. Dua negara Asia ini dianggap sebagai negara yang pas untuk menimba ilmu teh. Di tempat inilah Ratna mengulik tentang sajarah teh, mulai dari teh tertua yang berusia ribu tahun hingga sistem produksinya.

Seperti di China misalnya, aroma teh sangat diperhatikan. Begitu juga dengan cara penyajiannya. Dalam tradisi China, teh disajikan dalam dua wadah, yaitu dalam sebuah gelas dan sebuah mangkuk. Gelas berfungsi untuk menghirup aroma teh, sedangkan mangkuk berfungsi untuk meminum air teh.
Profesi Langka

“Kalau ada yang memanggil saya sebagai tea master, terlalu berlebih,” ujarnya merendah. Dirinya hanya mengenal serba serbi teh, tidak seperti para tea master yang telah memiliki ilmu lebih dalam. Untuk menggambarkan profesinya, Ratna lebih suka jika ia dikatakan sebagai seorang Tea Connoisseur alias pakar teh.
Profesinya ini yang langka membuat  banyak orang lantas berkonsultasi kepada Ratna soal teh. "Kalau sebagai konsultan kafe-kafe mungkin karena saya basic-nya kerja di kantor konsultan manajemen," ucapnya sambil tertawa.
Meskipun begitu, Ratna mengaku tidak pernah men-charge biaya bagi yang berkonsultasi padanya.
"Banyak pengusaha besar yang berkonsultasi sama saya. Mereka tertarik untuk mendirikan kafe teh di sini. Namun, saya bilang itu cukup sulit karena masyarakat Indonesia belum begitu mengapresiasi teh jadi harus mengedukasi pasar dulu dan itu butuh biaya besar," ceritanya.
Indonesia Kaya Akan Teh

Padahal sejak zaman Belanda, perkebunan teh banyak terdapat di tanah Indonesia dan hasil perkebunan dijual ke luar negeri. Ia juga mengatakan bahwa negara-negara lain seperti China, Jepang, Korea, serta Inggris sangat bangga terhadap tradisi minum teh mereka dan mengklaim bahwa teh berasal dari negara mereka.

"Sayang banget kalau teh hanya dianggap sebagai minuman biasa. Kalau ditanya mengenai teh, orang Indonesia hanya tau teh manis dan merek-merek teh kemasan botol, padahal teh lokal itu jenisnya beragam," urai penulis buku Kisah dan Khasiat Teh ini.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Punya Lima Kecacatan, Ducati Tarik Panigale


Produsen sepeda motor sport asal Italia, Ducati, harus menarik kembali (recall) varian Ducati 1199 Panigale. Itu dilakukan lantaran ditemukan lima kecacatan di motor terbarunya tersebut.

Dilansir Motorcyclenews, Sabtu 25 Agustus 2012, Lembaga Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya (NHTSA), Amerika Serikat menemukan kecacatan Ducati 1199 Panigale.

Pertama adalah masalah lengan ayun, di mana poros di swingarm bagian kanan dan kiri tidak presisi, sehingga berpotensi mengendur saat motor dalam kecepatan tinggi.

Catat kedua yakni pada bagian kabel bodi yang dekat dengan posisi mesin. Dengan begitu, kabel tersebut bisa meleleh akibat panasnya mesin dan menimbulkan arus pendek.

Tak berhenti sampai di situ, motor yang pernah mendapatkan gelar sebagai "Most Beautiful Bike of Show" versi majalah otomotif di Italia ini juga mengalami masalah pada steering damper Ohlins.

Diketahui ada bagian baut yang menyangkut dan terhubung dengan steering damper di kepala kemudi. Potensi yang ditimbukan handling motor bisa terganggu lantaran ada gejala getaran tinggi pada setang.

Ditemukan juga masalah pada desain steering damper Ohlins, yang berpotensi posisi komponen ini bergeser. Ditengarai masalah ini terjadi akibat adanya kesalahan pada perakitan.

Cacat terakhir adalah bagian rem depan. NHTSA menyebutkan kinerja rem depan tak maksimal, setelah master rem depan ditemukan bergesekan dengan baut. Alhasil, rem bisa menjadi kehilangan tekanan.

Akibat lima kemacetan ini, Ducati harus menarik sebanyak 2.321 unit 1199 Panigale rakitan 2012 dan 90 unit 1199 Panigale rakitan 2013.

Ducati 1199 Panigale menggunakan mesin Superquadro dua silinder mampu memproduksi tenaga paling besar diantara motor lainnya. Dengan sasis monocoque inovatif, daya yang disemburkan mencapai 195 tenaga kuda, dengan bobot motor hanya 164 kg.

1199 Panigale juga sudah diperkuat dengan rem ABS, Ducati Traction Control (DTC), Ducati Electronic Suspension (DES), Ducati Quick Shift (DQS), Engine Braking Control dan Ride-by-wire.

Senin, 13 Agustus 2012

Kisah Fotografer yang Mengabadikan Kemerdekaan RI

Fotografi memang bukan hanya menjadi saksi sejarah, tapi juga menjadi bukti sejarah hidup manusia dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Dengan keberadaan foto, banyak orang bisa diingatkan dan disadarkan tentang suatu hal. Frans Soemarto Mendoer sangat memahami hal tersebut. Karena itulah sahabat anehdidunia.blogspot.com, setelah mendapat kabar dari seorang sumber di harian Jepang Asia Raya bahwa akan ada kejadian penting di rumah kediaman Soekarno, Frans langsung bergerak menuju rumah bernomor 56 di Jalan Pegangsaan Timur itu sambil membawa kamera Leica-nya. Dan benar, pagi itu, Jumat, 17 Agustus 1945, sebuah peristiwa penting berlangsung di sana: pembacaan teks proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Soekarno.


Saat itu Frans hanya memiliki sisa tiga lembar plat film. Jadi dari peristiwa bersejarah itu, ia hanya bisa mengabadikan tiga adegan. Yang pertama, adegan Soekarno membacakan teks proklamasi. Yang kedua, adegan pengibaran bendera Merah Putih yang dilakukan oleh Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA. Dan yang ketiga, suasana ramainya para pemuda yang turut menyaksikan pengibaran bendera. Setelah menyelesaikan tugas jurnalisnya itu, Frans langsung bergegas meninggalkan rumah kediaman Soekarno karena menyadari bahwa tentara Jepang tengah memburunya.

Frans menjadi satu-satunya orang yang mengabadikan momen sakral itu karena Alex Alexius Impurung Mendoer, kakak kandungnya yang juga sempat memotret prosesi bersejarah tersebut, harus merelakan kameranya dirampas oleh tentara Jepang.



Dan sewaktu tentara Jepang menemui Frans untuk meminta negatif foto Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi, Frans mengaku film negatif itu sudah diambil oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto peristiwa yang sangat penting itu ia sembunyikan dengan cara menguburnya di tanah, dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Kalau saja saat itu sahabat anehdidunia.blogspot.com, negatif film tersebut dirampas tentara Jepang, maka mungkin generasi sekarang dan generasi yang akan datang tidak akan tahu seperti apa peristiwa sakral tersebut.


Bahkan, mengenai kehadiran Frans di rumah Soekarno pada waktu itu, wartawan senior Alwi Shahab menulis “Andaikata tidak ada Frans Mendoer, maka kita tidak akan punya satu foto dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan…” Tulisan itu dimuat di harian Republika edisi Minggu, 14 Agustus 2005, tiga hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-60.




Pencucian tiga buah foto bersejarah itu juga tidaklah mudah karena dihalang-halangi pihak Jepang. Frans bersama Alex terpaksa secara diam-diam harus mengendap, memanjat pohon pada malam hari, dan melompati pagar di samping kantor Domei (sekarang kantor berita ANTARA) untuk bisa sampai ke sebuah lab foto guna mencetak foto-foto tersebut. Padahal, bila dua bersaudara itu tertangkap oleh tentara Jepang, mereka akan dipenjara, bahkan dihukum mati.


Foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu pertama kali dimuat di harian Merdeka pada tanggal 20 Februari 1946 sahabat anehdidunia.blogspot.com, lebih dari setengah tahun setelah pembuatannya. Film negatif catatan visual itu sekarang sudah tak dapat ditemukan lagi. Ada dugaan bahwa negatif film itu ikut hancur bersama semua dokumentasi milik kantor berita Antara yang dibakar pada peristiwa di tahun 1965. Waktu itu, sepasukan tentara mengambil seluruh koleksi negatif film dan hasil cetak foto yang dimiliki Antara lalu membakarnya.