Jumat, 26 Januari 2018

Smartphone ini Memiliki Lima Lensa Kamera Belakang

Jika tiga buah kamera belakang pada smartphone terbaru Huawei yaitu P11 telah membuat banyak orang berpikir tentang manfaatnya, maka bersiaplah kaget dengan smartphone baru ini karena disebut-sebut akan memiliki bukan hanya tiga, tetapi lima lensa sekaligus!

Entah apa maksudnya, tetapi lima buah lensa yang berada di bagian belakang ini bukan lensa kamera statis melainkan kamera dengan modul yang bisa berputar. Secara ide memang cukup inovatif, tetapi secara fungsi, apakah memang layak sebuah smartphone memiliki lensa sebanyak itu?
Mengingat kamera profesional saja hanya memiliki satu lensa.
Smartphone apakah ini?
Saat ini, yang akan terlintas di pikiran jika menyebut kamera pada smartphone adalah Oppo, Vivo, atau Huawei dan mungkin beberapa merk lain. Apakah smartphone yang memiliki lima lensa kamera ini merupakan buatan salah satu pabrikan tersebut?
Ternyata bukan.
 
Adalah Nokia, yang memiliki inovasi tersebut dan disebut-sebut akan segera dipasang pada salah satu produk teranyar mereka, yaitu (kemungkinan bernama) Nokia 10. Nokia memang bekerja sama dengan produsen kamera ternama Carl-Zeiss. Kerja sama ini bahkan telah berlangsung sejak era Lumia, yang pada saat itu merilis Lumia 1020.
Saat itu Lumia 1020 memiliki modul kamera belakang yang menonjol, dan nampaknya untuk Nokia terbaru ini juga akan menggunakan modul menonjol serupa pendahulunya tersebut. Bedanya modul kamera pada Nokia 10 ini bisa diputar, dan terdapat 7 lubang. 
Lima lubang untuk lensa kamera, dan dua lubang untuk LED flash.
Bagaimana cara kerja kelima kamera tersebut?
Kelima lensa yang ada pada punggung perangkat ternyata merupakan lensa yang memiliki fokus berbeda-beda. Ini berarti kelima lensa tersebut berperan sebagai lensa sekunder dari kamera utama. Jadi, kelima lensa tersebut bisa dipilih sesuai keinginan tergantung pada jarak objek yang akan diambil menggunakan kamera tersebut.
Untuk saat ini memang belum banyak yang bisa diketahui dari smartphone dengan lima lensa putar buatan Nokia ini. Menurut rumor yang beredar kemungkinan perangkat ini akan meluncur pada semester kedua 2018, berarti kurang lebih pada Juni mendatang.
Tapi, Nokia 9 saja belum dirilis. 
 

Asteroid Mengintai Bumi, Umat Manusia Terancam Musnah?

Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA membuat pengumuman penting. Sebuah Asteroid 2002 AJ129 dikabarkan akan melintas dekat Bumi, tepat pada Minggu 4 Februari 2018.
Saat berpapasan dengan Bumi, asteroid tersebut hanya berjarak sekitar 4,1 juta kilometer dari Bumi, atau 10 kali antara jarak Bumi dengan Bulan.

AJ129 sudah diteliti selama 14 tahun dan telah diketahui lintasan orbitnya. Akankah asteroid itu menabrak Bumi dan menciptakan bencana besar?
Manajer Pusat Penelitian Obyek Dekat Bumi Laboratorium Jet Propulsi NASA, Paul Chodas menegaskan, kalau AJ129 tidak akan menghantam Bumi, meskipun jarak batu antariksa melintas itu memang dekat dengan Bumi.
"Menurut perhitungan kami tidak ada peluang sama sekali Asteroid 2002 AJ129 menabrak Bumi, baik pada tanggal 4 Februari maupun sampai 100 tahun mendatang," ungkapnya, dikutip dari situs Metro, Kamis 25 Januari 2018.
Namun, ada pendapat yang berbeda. Peneliti dari Pusat Penelitian Atmosfer Nasional di Colorado, Amerika Serikat, Charles Bardeen mengatakan, batuan luar angkasa dengan luas lebih dari satu kilometer mampu membuat kebakaran hutan akibat membuang debu dan abu dalam jumlah besar ke udara.
Selain itu, sisa-sisa batu antariksa itu tetap 'menempel' pada atmosfer selama 10 tahun, sehingga akan menghalangi sinar Matahari.
"Skenario terburuk ini bisa membuat suhu di Bumi turun dan kemungkinan besar sektor pertanian akan mengalami gagal panen selama bertahun-tahun," katanya, mengingatkan.
Seorang programer komputer dan astronom, Robert Walker, memprediksi jika asteroid seluas 200 meter menghantam Bumi. Meski begitu, ia mengklaim tidak ada dampak besar pada kelangsungan hidup manusia.
Namun, jika benda luar angkasa tersebut masuk ke laut, menyebabkan bencana Tsunami dan manusia, serta pemukiman yang dekat dengan laut tersebut akan berimbas.
"Jika menghantam daratan akan membuat lubang (akan 10 kali lebih besar dari diameter asteroid), akan membunuh jutaan orang. Terlebih, kalau mendarat dekat atau di tengah kota," jelas Walker.
Tetapi, jika mendarat di daerah terpencil, efeknya akan sangat minim dan mayoritas area saat ini masih gurun, atau es atau tidak ditinggali oleh manusia.
"Saya juga melihat asteroid dengan ukuran ini (kalau menghantam Bumi) tidak akan berdampak pada suhu di Bumi, atau mengakibatkan musim dingin, atau pun menghalangi sinar Matahari menyinari Bumi," ujarnya, menerangkan.

Mencari tempat baru
Asteroid 2002 AJ129 memiliki lebar 1,1 kilometer, atau lebih panjang dari gedung pencakar langit tertinggi dunia, Burj Khalifa, yang panjangnya 0,8 kilometer.
Asteroid ini akan meluncur mendekat bumi dengan kecepatan 67 ribu mil per jam, atau 10 kali lebih cepat dari kecepatan pesawat hipersonik North America X-15.
Fisikawan Stephen Hawking mengungkapkan, manusia tidak punya pilihan lain selain mencari tempat baru untuk hidup.
Menurutnya, mau tidak mau, manusia harus meninggalkan Bumi, karena cepat atau lambat, manusia bisa punah, yang salah satunya, akibat hantaman asteroid.
Untuk itu, ia mengajak semua bangsa untuk fokus lagi ke misi antariksa. Hawking meyakini, pada 2020, manusia sukses mendarat lagi di Bulan, dan lima tahun berikutnya, manusia harus sudah bisa menginjakkan kaki di Planet Mars.
"Menyebar ke luar angkasa akan mengubah sejarah manusia, sebab Bumi tidak bisa dihuni selamanya. Misi antariksa, merupakan ambisius baru yang akan menarik banyak anak muda dan meningkatkan ketertarikan pada bidang lain seperti astrofisika dan kosmologi," kata Hawking, seperti dikutip BBC.
Ia kembali meyakinkan bahwa satu-satunya tempat berpijak adalah pergi dari Bumi dan merambah antariksa merupakan satu-satunya cara menyelamatkan diri. “Saya yakin, manusia harus meninggalkan Bumi. Saya juga berharap, bangsa-bangsa di dunia tak bertikai dan fokus pada upaya menyelamatkan manusia," ungkap dia, menekankan.

Benda luar angkasa
Mengutip Vox, lima tahun lalu, sebuah benda luar angkasa menghantam wilayah Chelyabinsk, Rusia. Ledakannya mampu membuat kerusakan pada 30 kilometer wilayah di sekitarnya, di mana 7.000 gedung rusak parah, 1.500 orang terluka parah meskipun tidak ada korban jiwa.
Ledakan dahsyat itu disebabkan oleh benda luar angkasa berukuran 20 kilometer. Peristiwa yang terjadi 15 Februari 2013 lalu tersebut, cukup membuat shock semua orang. Yang terpenting, warga dunia menyadari jika ternyata ada ancaman dari luar angkasa terhadap kelangsungan hidup di Bumi.
Apalagi, dengan kenyataan bahwa ada sekitar jutaan asteroid yang beredar di sistem tata surya kita. Tidak heran, jika negara adikuasa Amerika Serikat, membuat program pemantauan bertajuk Near Earth Object (NEO), yang mendeteksi keberadaan benda luar angkasa sampai jarak 40 ribu mil dari Bumi.
Jika lengah, bukan tidak mungkin salah satu benda tersebut mampu menyenggol, bahkan menabrakkan diri ke Bumi, menyebabkan kerusakan yang lebih dahsyat dari Chelyabinsk. Hal yang ditakutkan, munculnya kiamat yang mampu menghancurkan peradaban.
Sebelumnya, awal tahun ini, Asteroid 3200 Phaethon pernah mendekati Bumi. Dilansir Mirror, ilmuwan mengungkap kenyataan tentang 3200 Phaethon. Asteroid yang sebelumnya diperkirakan berdiameter tidak lebih dari lima kilometer ini ternyata di luar dugaan.
Para ilmuwan Planetary Radar di Arecibo Observatory, Puerto Riko, mengungkapkan, melalui sebuah gambar radar yang mereka amati bahwa diamater 3200 Phaethon lebih besar 0,6 mil dari ukuran yang diperkirakan sebelumnya.
Asteroid ini ternyata memiliki diameter 3,6 mil, atau sekitar 5,8 kilometer. "Pengamatan baru Phaethon ini menunjukkan bahwa bentuknya mirip dengan Asteroid Bennu," kata Patrick Taylor, pemimpin grup Planetary Radar.
Mengenai jaraknya dengan Bumi, Taylor mengungkapkan, pada 17 Desember 2017, asteroid ini berada pada jarak 10,3 juta kilometer dari Bumi.
Jarak tersebut, merupakan jarak terdekat kedua bagi 3200 Phaethon ke Bumi sepanjang abad ini. Pada 2093 nanti, diperkirakan Asteroid 3200 Phaethon hanya akan berjarak tiga juta kilometer dari Bumi.